Siswa SMAK 1 PENABUR Menangkan Kompetisi Pemrograman Internasional

30 Januari 2017 lalu, seorang siswa SMAK 1 PENABUR telah diumumkan menjadi salah satu pemenang dalam ajang kompetisi Google Code-in yang diselenggarakan oleh perusahaan multinasional Google itu sendiri. Scott Moses Sunarto, atau yang biasa disapa “Scott” oleh teman-temannya telah menjadi salah satu dari 3 pelajar Indonesia yang berhasil mendapatkan hadiah grand prize dalam kompetisi tahunan Google ini.

logo google code-in smak 1

Apa itu Google Code-in?

Google Code-in atau yang biasa disingkat GCI, merupakan sebuah kontes pemrograman yang rutin setiap tahun diselenggarakan oleh Google. Dengan kompetisi ini, Google mempromosikan dan memperkenalkan pemrograman open-source kepada siswa-siswa sekolah pra-universitas dengan rentang usia 13-17 tahun. Dalam Google Code-in, banyak organisasi open-source yang memberikan serangkaian tugas-tugas untuk diselesaikan para kontestan. Untuk memenangkan kompetisi dalam setiap organisasi, kontestan harus menyelesaikan tugas-tugas sebanyak-banyaknya. Tentunya, tugas-tugas yang diberikan tidak hanya berupa codingan saja, namun juga tugas-tugas yang mempromosikan open-source development itu sendiri, seperti: documentation, quality assurance, outreach, dan juga user interface.

Pengalaman Scott Moses Dalam Google Code-in

Dalam kompetisi ajang internasional ini, tentunya banyak tantangan dan rintangan yang harus dilalui oleh teman kita Scott Moses. Saat memulai kompetisinya saja, ia sudah terlambat kurang lebih satu setengah bulan karena fokusnya dalam menghadapi Penilaian Akhir Semester. Secara kuantitatif, keterlambatan ini dapat menjadi suatu hal yang signifikan.  Dalam waktu 1.5 bulan yang tidak singkat ini, kompetitor dalam ajang Google Code-in ini dapat menyelesaikan banyak tugas yang tersedia terlebih dahulu.

Scott mulai fokus dalam kompetisi ini setelah pekan Penilaian Akhir Semester berakhir, terlebih lagi saat liburan tiba. Saat libur, Scott diceritakan telah meluangkan sebagian besar waktunya untuk berkompetisi secara online. Bahkan, ia telah mengorbankan waktu jalan-jalan untuk bekerja keras mencapai targetnya dalam ajang ini. Pada akhirnya, Scott berhasil mencapai peringkat atas dalam kompetisi Google Code-in 2016, meskipun sudah terlambat satu setengah bulan.

Saat mendaftar dalam kompetisi ini, Scott disuguhkan 17 organisasi yang tersedia, mulai dari Haiku sampai Drupal. Namun, karena Scott lebih memiliki minat dalam organisasi MovingBlock, ia memilih untuk fokus mengerjakan tugas dalam organisasi tersebut. Dalam organisasi ini, Scott mendapatkan tugas-tugas untuk melakukan pengembangan terhadap sebuah permainan open-source bernama Terasology. Tugas yang tersedia dalam organisasi MovingBlock ini beragam, mulai dari melakukan modding hingga melakukan dokumentasi secara mendalam. Dalam pengerjaan tugas, semua proses dibimbing oleh seseorang atau lebih mentor yang bertugas untuk menilai tugas yang telah diselesaikan dan dikirim.

Menurut Scott, kompetisi yang ia selesaikan dalam satu setengah bulan ini sangat bermakna. Bagaimana tidak, dalam kompetisi ini, ia telah belajar banyak hal yang baru dan juga keren mengenai open-source development. Kompetisi ini juga selaras dengan pribadi scott yang haus akan pengetahuan, selalu melakukan trial and error, juga mampu berkomunikasi dan bekerjasama dengan mentor serta orang-orang lain.

Sedari kecil, Scott memang memiliki hobi di dalam dunia teknologi informasi, bahkan ia juga bercita-cita untuk menjadi seorang ilmuwan komputer dan entrepreneur. Kompetisi ini mengingatkannya lagi kepada cita-cita dan juga tokoh-tokoh favoritnya, Linus Torvalds dan juga Larry Page. Menurutnya, Linus Torvalds sang kreator linux telah menjadi motivasi utamanya dalam open-source development. Juga menurutnya, Larry Page telah menjadi seorang ilmuwan komputer sekaligus pebisnis yang andal.

Saat ini, Scott sedang menjadi mentor dalam kompetisi Google lainnya yang bernama Summer of Code (SoC). Google SoC ini sendiri merupakan sebuah perlombaan pemrograman yang diselenggarakan Google untuk tingkat universitas. Dalam Google Code-in berikutnya, Scott Moses memiliki kemungkinan besar untuk menjadi mentor dalam organisasi yang sama dimana ia menang dan mendapatkan hadiah grand prize. Ia berhasil memperoleh kesempatan untuk mengunjungi markas besar Google di San Fransisco bersama seseorang pemenang dari organisasi MovingBlock dan pemenang-pemenang dari organisasi lainnya.

Harapan Scott

Tahun ini, Google Code-in telah diikuti oleh 1.340 siswa yang berpartisipasi dari 62 negara yang berbeda. Untuk Google Code-in berikutnya, Scott berharap agar akan lebih banyak lagi kontestan dari Indonesia yang berpartisipasi dalam Google Code-in ini, terutama dari mereka yang bersekolah di yayasan PENABUR. Menurut Scott, setiap remaja harus mencoba untuk ikut dalam kompetisi GCI ini, walaupun mereka tidak berencana untuk menjadi programmer atau ilmuwan komputer. Lebih lagi menurutnya, Google Code-in ini dapat menambah wawasan dan juga

“Jika anda tidak tahu bacaimana cara memrogram, anda akan menjadi seorang buta huruf di mana mendatang” – Eric Elliot

[Aaron]