MARK - MENANG OLIMPIADE, MEMANG PINTAR ATAU KERJA KERAS?

Pintar dan berprestasi - Mungkin dua kata itu menggambarkan alumni Smukie yang satu ini. Mark adalah salah satu "angkatan corona" atau lulusan tahun 2020 yang seringkali menjuarai lomba-lomba di bidang kimia, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Mark

Mark

Pada saat SMP, Mark juga pernah mengikuti OSN. Saat itu, prestasinya kurang memuaskan karena harus terhenti di tingkat provinsi. Namun, hal ini justru menjadi pemicu Mark untuk kembali berlomba di olimpiade saat SMA. Bukan dengan pelajaran yang familier, Mark justru memilih pelajaran Kimia. "Kimia itu luas, ada kimia organik fisik, anorganik dan biokimia. Aku paling suka kimia organik karena seru, dari semua unsur di tabel periodik, cuma karbon aja yang dibahas. Tapi, bukunya bisa setebel pelajaran semua unsur lain digabung jadi satu!" jelasnya.

Selama semester pertama di SMUKI, ia mengikuti persiapan untuk berlomba di OSN. Setelah sekitar 6 bulan, di semester dua ia mengikuti OSN di tingkat kota dan provinsi. Jerih lelahnya membuat OSN tahun itu lebih memuaskan baginya. Ia dapat melanjutkan perjuangannya di tahap nasional. Buah manis dirasakan Mark ketika berhasil membawa pulang medali perak kala itu. Sayangnya, ia tidak lulus seleksi untuk melanjutkan di tingkat internasional.

Karena tidak masuk ke tingkat internasional, Mark kembali mengulangi siklus yang sama di kelas 11 semester 2. Kali ini, tidak tanggung-tanggung, ia berhasil meraih medali emas di tingkat nasional. Ia pun kembali mengikuti pelatihan untuk bersaing dengan peserta lainnya di tingkat internasional. Kabar baik diterimanya pada Kamis, 25 Juni 2020, ia lulus seleksi dan dapat berkompetisi di tingkat internasional pada 25 Juli mendatang.

Pulang membawa medali memang terlihat menyenangkan. Tapi, siapa sangka jika di balik kegembiraan yang orang lain lihat, terkadang ada perasaan menyesal dan kecewa yang tersisa. Seperti halnya saat Mark mewakili DKI Jakarta di acara "The 4th Olympiad of Metropolises" di Moskow, Rusia, pada bulan September 2019. Kala itu ia hanya meraih medali perunggu. Padahal, perbedaan nilai dengan pemilik medali perak hanya 0,35 poin.

Kekalahan, kegagalan, dan kekecewaan ini juga pernah berdampak pada semangat Mark dalam mengikuti pelajaran di sekolah. Belum lama ini, Mark berniat mengikuti Chemistry Competition Universitas Negeri Yogyakarta. Semuanya sudah dipersiapkan dengan matang. Sayangnya, beberapa menit sebelum boarding pesawat, ia mendapat kabar tidak boleh pergi karena Ujian Sekolah sudah sangat dekat. Kabar ini tentu meninggalkan duka dan membuatnya hilang konsentrasi belajar. Hasilnya pun diakui jadi kurang memuaskan.

Nah, bisa dilihat kan kalau ikut olimpiade bukan berarti selalu senang karena berprestasi dan nilai sekolah selalu di atas 90. Mark juga pernah mendapatkan nilai 40, loh. Tapi, kalau kecewa, ia tidak pernah berlarut-larut dalam perasaan seperti itu. Harus cepat bangkit lagi, dan belajar bersyukur. Bisa juga ditambah dengan melakukan refreshing, seperti jalan-jalan bersama teman sambil makan Ramen, makanan kesukaannya. Mark juga rela pulang sore setiap hari dan begadang semalaman demi mengejar ketinggalannya karena lomba. Jadi, belajar itu juga penting ya!

Pesan Mark buat Smukiers, sama seperti salah satu nasihat Ir. Soekarno, "Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang." Semoga bermanfaat, ya.

Fun Fact: Tidak hanya Kimia, Mark juga sempat berniat ikut lomba Sejarah dan PKn, loh.