GILBERT RHEZA PUTRA - PEKERJAAN DARI ISENG-ISENG

Gilbert Rheza Putra adalah alumni Smuki tahun 2015, yang merupakan seorang fotografer. Gilbert kini menetap di Jepang setelah lulus dari Ritsumeikan Asia Pacific University, jurusan Innovation and Business.

Gilbert Rheza Putra

Gilbert Rheza Putra

Sebenarnya, menjadi fotografer berawal dari "iseng-iseng". Awalnya, Gilbert suka memotret untuk mengisi halaman Instagram, yang saat itu sangat booming. Banyak teman dan keluarga yang menilai hasilnya sangat baik. Tak heran, Gilbert sering diminta untuk memotret di berbagai kesempatan.

Dengan banyaknya pemandangan indah di Negeri Sakura dan teman-teman baru yang ia kenal, passion Gilbert semakin tersalurkan di Jepang.

Entah rezeki atau sekadar kebetulan, di tahun pertamanya di Jepang, Gilbert ditawarkan pekerjaan pertamanya hanya melalui Message di Facebook. Setelah itu, tawaran-tawaran lainnya mengikuti, seperti kerjasama dengan Rohto dan Sweet Escape. Dari situ, ia semakin menyadari kalau ternyata hobinya dapat menjadi pekerjaan yang baik jika ditekuni. Singkat cerita, setelah lulus kuliah, Gilbert melamar pekerjaan dan diterima sebagai fotografer di salah satu perusahaan pre-wedding di Jepang

Selama di Smuki, Gilbert belum terlalu hobi fotografi. Jadi, ia tidak mengikuti ShutterOne. Gilbert justru mengikuti KR1ZA Futsal Putra. Momen yang masih sangat diingat adalah ketika timnya meraih juara satu di suatu cup. Ditambah, saat itu Gilbert juga ikut bermain. Kesenangan luar biasa itu tentu tak bisa dilupakan. Selain KR1ZA, Gilbert juga pernah mengikuti ekstrakurikuler floorball dan fotografi, serta menjadi panitia transportasi SOC.

Menurutnya, sekolah di Smuki mengajarkannya banyak hal; menjadi sosok yang tahan banting, tidak takut gagal, dan mempunyai semangat juang untuk menjadi yang terbaik. Di Smuki, Gilbert sudah terbiasa dengan rutinitas belajar yang panjang; pulang sekolah sore lalu bimbel, sampai di rumah sudah malam, masih lanjut les privat, belum lagi kalau ada tugas dan ulangan, harus tidur larut dan bangun subuh keesokan harinya, sehingga, pelajaran di universitas menjadi sangat mudah baginya.

Meskipun berprestasi secara akademis, Gilbert juga sering mengalami kegagalan. Cara Gilbert mengantisipasi kembali mendapatkan nilai buruk adalah dengan evaluasi. Cari tahu apa yang menjadi kesalahan belajar sebelumnya, misalnya meremehkan details. Karena, hal-hal kecil itu sering menjadi bagian besar dalam ulangan.

Orang tua Gilbert juga sangat supportive, memberi support saat remedial hingga mendukung dalam pekerjaan. Mungkin, banyak orang tua yang mengira jika fotografer bukan pekerjaan yang baik, tapi tidak dengan mereka. "Sampai sekarang Papi Mamiku bilang, 'Keputusan yang paling bikin Papi Mami bangga itu adalah keputusan mereka (Papi Mami) untuk beliin aku kamera.'," tambahnya.

Gilbert juga berpesan pada Smukiers, agar banyak melakukan eksplorasi. Cari tahu tentang berbagai hal, dan dengarkan nasihat orang tua dan guru. Perluas koneksi, dan cari banyak teman. "Jangan pernah anggep remeh orang lain karena kalian ga akan pernah tau orang itu akan menjadi siapa untuk kalian."

Banyak perilaku mayoritas masyarakat Jepang yang dinilai Gilbert patut ditiru Smukiers. Yang pertama, on time. Kedua, bersikap ramah. Ketiga, teratur. Salah satu contohnya adalah seorang kakek yang pernah ia lihat di kereta Shinkansen. Saat itu, waktu menunjukkan sekitar 11.30. Kakek itu terlihat sangat gelisah sambil sesekali melihat jam, membuat Gilbert penasaran. Ternyata, kakek itu menahan lapar hingga tepat pukul 12.00 untuk makan. Wow! Walaupun tidak perlu seekstrim ini, tapi ini contoh yang baik, Smukiers!