Gerald Sebastian : Dimulai Dari Sebuah Pertanyaan

JAKARTA, PENS1L - Gerald Sebastian, alumni SMAK 1 Penabur Jakarta yang lulus di tahun 2012. Setelah lulus, Gerald melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia jurusan Ilmu Komunikasi dengan peminatan di iklan. Sekarang, Gerald menjadi co-Founder dan business director di “Kok Bisa”.

Tim Kok Bisa

Tim Kok Bisa

“Di kampus, kita sering dipaparkan bahwa media itu isinya ‘hanya kejar tayang’ doang tuh,” ucap Gerald. Kesan orang-orang terhadap media Indonesia negatif dengan banyaknya konten hiburan yang kurang mendidik, seperti konten prank atau selebriti memamerkan kekayaan. “Aku pribadi ga ada masalah sama konten hiburan tapi yang jadi masalah adalah kita ga punya alternatif untuk tayangan pendidikan,” ujarnya. “Semakin banyak alternatif, orang semakin tahu mana konten yang baik dan yang buruk,” katanya. Gerald ingin mengisi kekosongan konten edukasi dalam media Indonesia. Bersama teman kampusnya, Ketut Yoga Yudistira. Pada tahun 2015, terbentuklah kanal “Kok Bisa” yang sudah sempat direncanakan 1 tahun sebelumnya. Seiring berjalannya waktu, Kok Bisa hadir tidak hanya di YouTube, tapi hampir di semua media sosial di Indonesia.

Kok Bisa” adalah media edukasi terbesar di Indonesia. Konten yang disajikan adalah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan sehari-hari yang dibungkus secara menarik dan membuka pikiran dengan menggunakan animasi dan bahasa yang sederhana. Istilah tepatnya “Kok Bisa” adalah jembatan yang menghubungkan ilmu pengetahuan (sains) dan masyarakat. “Kok Bisa?” dengan 2,23 juta subscribers juga dikatakan sebagai pelopor konten edukatif di Youtube Indonesia.

Mengenal media Indonesia dan stigma buruk yang dimiliki tayangan pendidikan, mereka membuat edutainment dimana kontennya menghibur dulu kemudian membuat orang - orang penasaran dan bertanya - tanya. Gerald juga mengakui membuat konten edukasi itu susah karena harus melakukan riset, membuat skrip yang matang, dan menyederhanakan bahasa agar mudah dicerna. Jadi proses memproduksi sebuah konten edukasi tidak bisa asal-asalan dan tidak sesederhana yang dipikirkan loh. Maka dari itu, Kok Bisa saat ini penggerak bagi Edukreator (content creator di bidang edukasi) untuk berkarya di YouTube, bekerjasama dengan Kementrian Pendidikan dan Budaya (Kemdikbud), LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan YouTube learning membuat inisiasi Akademi Edukreator

Walaupun belum dapat menggantikan sekolah, “Kok Bisa” dapat menjadi pelengkap pembelajaran sekolah. Ibaratnya, “Kok Bisa” itu sebagai bab 0 (nol) yang membuat kita penasaran dan bertanya-tanya sebelum memulai bab pertama. Maka dari itu, “Kok Bisa” juga membuat suatu series bernama “Kok Bisa Explains” yang bekerjasama dengan kemdikbud, inibudi dan YouTube learning.

Salah satu motivasi Gerald membuat “Kok Bisa” adalah dari kesalahan dan pengalaman yang ia rasakan semasa ia sekolah. Dulu Gerald pernah gagal satu tahun di SMAK 1 simply karena belum tahu pola belajarnya. Itu bukan karena ia malas atau kurang berusaha. “Percuma kita mengikuti banyak les tambahan dan bekerja lebih keras atau “work hard”, kita harus ‘work smart’,” ujar Gerald.

Di SMAK 1, Gerald belajar untuk ‘push into the boundaries’. “Kalau kata menteri Nadiem, banyak bertanya, banyak mencoba, banyak berkarya. Walaupun kadang merasakan kegagalan, ga apa apa. Yang paling penting adalah dilakuin dan berkarya. Jangan cuma I have a plan on this, I have a plan on that, it will never happen,” ucap Gerald. “Dalam kehidupan nyata, it is okay to fail. Istilahnya adalah iteration dimana kita terus mencoba dan mengambil hal yang baik dan hal yang buruknya bukan dibuang tapi diperbaiki dan disitu kita bertumbuh. Jangan pernah berpikir tidak bisa lalu langsung menyerah, there will be no growth,” pungkas Gerald. Di smuki, Gerald belajar tentang failure, belajar tentang growth, belajar tentang iteration. “Jangan pernah takut untuk berkarya, dan terus mencoba dan belajar.” - Tutupnya