Stephanie Wijaya

Nama Stephanie Wijaya sudah tidak asing lagi, apalagi di kalangan pemain basket. Dia merupakan pemain basket yang berhasil terpilih menjadi bagian dari Skuad putri Honda DBL Indonesia All-Star 2019 pada tahun terakhirnya di Smuki. Menempuh pendidikan SMA nya di SMAK 1 Penabur, dia baru saja lulus pada tahun 2020 ini dan akan melanjutkan kuliah di City University of Hong Kong dalam bidang Data Science.

Stephanie Wijaya

Stephanie Wijaya

Selama di Smuki, Stephanie aktif berpartisipasi dalam kegiatan-kegitan organisasi maupun ekskur. Dia adalah bagian dari Kriza Basket Putri, tim basket Smuki, yang berhasil menjadi runner-up di Honda DBL DKI Jakarta Championship Series 2019. Bukan hanya itu, dia juga bergabung dalam kepanitiaan basket SmakOneCup pada tahun terakhirnya di Smuki. Pada tahun pertama dan kedua di Smuki, Stephanie mengikuti ekskur basket dan pada tahun ketiga, dia pindah ke ekskur futsal.

Menurutnya, pengalaman di Kriza dan menjadi panitia SmakOneCup merupakan yang paling berkesan. “Kriza sih sebenarnya yang paling berkesan. Sama jadi panit SOC tapi pas itu aku harus cabut duluan soalnya ada tryout ke Bali, ngak ngerasain jadi panit sampe akhir,” katanya

Sebelumnya, ketika SMP 1, Stephanie bukan menekuni basket melainkan futsal. Pada SMP 2, dia mulai suka dengan basket dan menjalaninya bersamaan dengan futsal sampai akhirnya menjadi lebih suka dengan basket. Dia berpindah ke SMAK 1 dengan motivasi bermain basket yang lebih baik lagi. “Kebetulan juga pas SMP sekolah aku pernah ikut tanding basket di SOC terus aku diajakin sama pelatihnya padahal waktu itu masih anak futsal. Aku juga waktu itu di-push buat pindah sekolah dan aku mikirnya aku pindah aja deh karena tim basketnya lebih bagus. Jadi dulu tuh sebenernya aku ngak tau Smuki itu sekolah yang akademik nya susah. Aku cuma mikir mau pindah ke Smuki dan masuk Kriza soalnya basket nya lebih bagus daripada sekolah aku yang dulu,” katanya.

Setelah pindah ke Smuki, Stephanie merasa bahwa akademik di Smuki luar biasa, di-push setiap harinya. “Dulu pas SMP ngak usah belajar mah lulus aja, nilai juga bagus terus. Di Smuki ngak belajar sama ngak perhatiin guru udah pasti remed,” ujarnya. Tetapi dengan ini, dia merasa sangat dipersiapkan untuk jenjang yang lebih tinggi.

Selain itu, Stephanie juga mengatakan bahwa Smuki mengajarkan untuk berpikir out of the box. “Kalo ada ulangan Mat, Kim, Fis gitu, apalagi Mat, kadang ada aja 1 soal yang ngak bisa dikerjain pake rumus, harus mikir kemana-mana. Tapi nanti jawabannya ternyata simple banget,” jelasnya.

Dalam pengalamnnya di Smuki, struggle yang dihadapi Stephanie adalah untuk mengejar pelajaran, terutama ketika kelas 12 Semester pertama karena non-stop tanding ke luar kota yang sempat menyebabkan nilainya drop. Ketika tanding ke luar kota, dia bisa meninggalkan sekolah selama 1 sampai 2 minggu. Untuk mengatasinya, Stephanie terus belajar dan terus mengembangkan motivasinya.

“Enjoy your days,” Stephanie memesankan anak Smuki sekarang, “Belajar itu penting tapi menurut aku kegiatan diluar belajar juga peting, harus seimbang. Semangat terus dan tetap berjuang sampe lulus.”